Foto Bokep | Foto Bugil | Tante Girang | Cerita Dewasa

ratubugil.com Merupakan Foto Bokep , Foto Bugil , Tante Girang , Cerita Dewasa terlengkap dan setiap hari update,...

Cerita Mesum : Isteri Tetangga Yang Kesepian Butuh Belaian

Cerita Mesum  Isteri Tetangga Yang Kesepian Butuh Belaian – Mulai bulan ini aku mendapat tugas ke lapangan di Pulau Kalimantan untuk menjadi care taker site manager untuk proyek pembuatan jalan propinsi. Site manager yang lama terkena kasus penggelapan uang perusahaan dan sudah diselesaikan secara intern perusahaan. Sebenarnya aku belum terlalu pas untuk posisi ini. Namun karena sudah tidak ada lagi person yang bisa dan siap dikirim, maka akhirnya pilihan itu jatuh kepadaku. Aku harus mengepalai dan mengatur segala sesuatu di lapangan sampai perusahaan mendapatkan orang yang cocok untuk menduduki posisi ini.

Foto-Bugil-Gadis-Cantik-Pamer-Memek-Mulus-dx

Sudah dua minggu aku di lapangan. Rasanya enjoy saja. Hitung-hitung refreshing melepaskan diri dari kesibukan dan rutinitas Jakarta. Lokasi camp tidak jauh dari kampung terdekat, hanya sekitar 500 m. Camp kami terdiri dari kurang lebih tigapuluh barak untuk keluarga dan bujangan. Sebenarnya aku mempunyai hak untuk menempati mess Direksi. Namun karena sepi tidak ada teman, maka aku lebih banyak tidur di mess bujangan. Dari delapan kamar hanya ada sekitar lima orang yang tidur secara tetap di mess bujangan. Aku mengambil kamar paling belakang.

Di belakang mess bujangan terdapat rumah seorang warga yang menjadi sub kontraktor untuk pekerjaan-pekerjaan yang dapat dikerjakan dengan tenaga manusia. Kami biasa memanggilnya dengan nama Pak Joko. Aliran listrik di rumah Pak Joko mengambil dari aliran listrik camp. Aku belum pernah melihat istrinya dari dekat, namun kulihat sekilas ia bertubuh kecil dan berkulit putih bersih.

Untuk mengisi waktu senggang dan membunuh rasa sepi maka hampir tiap malam aku ada di kantor ditemani dengan radio dua meteran. Mulanya agak canggung, namun kemudian asyik juga rasanya bisa berkomunikasi dengan breaker lokal di sana. Kalau sudah bosan nge-break paling-paling nonton televisi. Tidak ada hiburan lainnya. Ibukota propinsi jaraknya kurang lebih 300 km dari site.

Suatu malam ketika aku sedang cuap-cuap di depan radio, tiba-tiba ada suara wanita yang menyela masuk dan kemudian mengajakku berpindah jalur. Setelah berpamitan dengan warga yang masih aktif kamipun berpindah ke frekuensi yang ditentukannya.

“Malam, Ageng,” suara wanita tadi menyapaku. Aku menggunakan nama Ageng untuk nge-break di sini. Aku pilih nama itu asal saja, karena enak didengar dan mudah diingat. Tidak ada maksud tertentu.
“Malam, ini siapa ya?” tanyaku penasaran.
“Penasaran ya? Ini Lisa,” ia menjawab.
“Kalau boleh tahu Lisa posisi di mana?”
“Seputaran Camp..”. Ia menyebutkan camp tempatku berada.

Aku semakin penasaran, tetapi ia tetap tidak mau menyebutkan lokasi persisnya di deretan camp yang sebelah mana. Beberapa karyawan camp memang dibekali dengan HT untuk memudahkan komunikasi jika mereka sedang bekerja di lapangan. Aku berpikir jangan-jangan Lisa ini istri salah seorang karyawan camp. Aku tidak berani berbicara yang nyerempet-nyerempet, malu khan kalau ia benar-benar istri karyawan di sini.

“Kok namanya Ageng. Apanya yang ‘ageng’?” ia berbisik. Ageng artinya besar. Suaranya sengaja didesahkan. Busyet!! Justru ia yang mulai menggodaku. Aku tidak mau menanggapi sebelum tahu persis siapa Lisa ini.
“Udahan ya, udah malam. Aku mau nonton TV dulu. Cherio.. Dan 73-88,” kataku sambil memutar tombol power ke posisi off. Sekilas sebelum pesawat mati sepenuhnya kudengar Lisa berteriak”Ageng, tunggu du..”.

Dari kantor aku berjalan kurang lebih 200 m untuk sampai di mess bujangan. Sebelum masuk ke kamar sekilas kudengar dari rumah Pak Joko suara wanita sedang nge-break. Atau jangan-jangan..! Ah sudahlah. Aku sudah mengantuk dan esok pagi aku harus masuk ke lapangan untuk melihat konstruksi jembatan yang sedang dikerjakan.

Beberapa malam kemudian di udara Lisa masih juga menggodaku dengan nada suara yang dibuat-buat dan kata-kata yang konotatif. Aku tak tahan memendam penasaranku. Esoknya akhirnya aku bertanya pada Pak Dan seorang karyawan yang memegang HT.

“Pak, sebentar Pak,” kataku sambil melambaikan tangan. Pak Dan kemudian menuju ke tempatku berdiri.
“Ada apa Pak Anto?” tanyanya heran.
“Maaf Pak, beberapa malam saya nge-break dengan seorang perempuan bernama Lisa. Siapa dia Pak? Istri karyawan?” tanyaku.
“Bukan Pak. Itu kan istrinya Pak Joko. Kenapa? Bapak digodain ya. Ia memang biasa ngomong yang ngeres-ngeres kalau lagi di udara,” kata Pak Dan.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Ya sudah Pak Dan. Silakan melanjutkan pekerjaan”.

Malamnya aku ketemu lagi dengan Lisa di udara. Kembali ia mengajakku mojok ke frekuensi yang tidak dipakai.

“Selamat malam Ageng.. Anunya”, ia langsung menggodaku. Pada saat mengucapkan kata terakhir sengaja ia menurunkan volume suaranya.
“Malam Lisa yang ge.. Lisa.. Aah. Geli dan basah,” akupun balas menggodanya. Kini aku tahu siapa dia.
“Yang dicari kan yang bikin geli dan kalau nggak basah nanti lecet dong..,” katanya lagi.

“Dan kalau nggak ageng nggak enak dong..,” kataku menimpali. Ia terkikik. Kami terus berbicara dengan kata-kata yang nyerempet-nyerempet. Setelah beberapa lama aku tak tahan lagi, bahaya kalau nanti aku jadi kepikiran terus dengan kata-katanya. Di ujung kampung ada juga tempat prostitusi liar dengan belasan PSK. Namun masakan aku harus antri di sana dan berebut dengan karyawan perusahaan kayu di sebelah dan dengan karyawanku sendiri. Bisa jatuh merk.

Paginya aku mandi agak kesiangan. Mess sudah sepi, semua penghuninya sudah berangkat kerja. Kamar mandi terletak di bagian belakang mess. Karena penghuni mess semuanya laki-laki, maka kamar mandi dibuat untuk mandi beramai-ramai. Dinding belakangnya tidak tertutup sampai ke atas, paling hanya setinggi dua meter. Rumah Pak Joko terlihat jelas dari kamar mandi karena memang letak rumahnya di bagian tanah yang agak tinggi.

Aku mandi dengan santai. Siang ini tidak ada rencana ke lapangan dan dalam briefing sore kemarin sudah kujelaskan pekerjaan masing-masing bagian untuk hari ini. Ketika melihat ke arah rumah Pak Joko aku tercekat ketika kulihat Lisa melihat ke arahku. Meskipun aku mandi dengan tetap mengenakan celana dalam namun tak urung aku merasa jengah juga ditelanjangi oleh tatapan matanya. Ia menatapku dengan tatapan sayu dan gigi atasnya menggigit bibir bawah. Aku segera menyelesaikan acara mandiku.

Malamnya aku duduk di teras mess dengan beberapa warga kampung yang ikut menumpang nonton tv. Tiba-tiba Lisa datang dengan membawa rantang dan memberikannya pada salah satu penghuni mess. Sambil menunggu rantangnya, Lisa duduk berseberangan denganku.

“Malam Pak Anto. Lagi santai nih?” tanyanya berbasa-basi.
“Eh.. Malam juga Bu Joko. Yahh lagi pengen nonton TV,” jawabku.
“Nggak on air malam ini?” tanyanya lagi.
“Sebentar lagi mungkin Bu. Nonton berita dulu sebentar”.

Kupandangi istri Pak Joko ini. Selama ini aku hanya melihatnya dari kejauhan. Tubuhnya kecil, kuperkirakan 150 cm dengan berat seimbang. Dadanya cukup besar untuk ukuran tubuhnya. Kulitnya putih bersih.

Dari dalam mess keluar anak yang tadi membawa rantang.

“Maaf Bu Joko, nggak ada tempat kosong di belakang. Jadi rantangnya biar di sini dulu, besok saya kembalikan ke rumah,” katanya.
“Ya sudah. Ini tadi bikin kolak kebanyakan. Bapaknya nggak pulang. Sayang kalau dibuang, makanya saya bawa saja ke sini,” kata Lisa sambil menatapku.
“Terima kasih kalau begitu. Kebetulan saya juga masih lapar,” kataku.

Akhirnya setelah bercakap-cakap sebentar ia minta diri untuk pulang. Kalau di darat nada bicara dan bahan obrolannya biasa saja, namun kalau sudah di udara. Hhhkkh bikin kita gemas dan BT. Bawah tegang.

Beberapa malam kemudian kulihat rantang yang dibawa Lisa masih tergeletak di meja belakang. Rupanya anak-anak ini lupa mengembalikannya. Kurapikan rantangnya dan aku berniat untuk mengembalikannya.

Ketika aku sampai di rumahnya kulihat Lisa sedang duduk di teras rumah, sedang bermain dengan anaknya. Ia terkejut, tidak menyangka kalau aku sendiri yang mengembalikan rantangnya. Ia berdiri dan menyongsongku.

“Aduhh Pak Anto. Mestinya biar anak-anak itu saja yang mengembalikan ke sini,” katanya sambil menerima rantang.
“Nggak apa-apa kok Bu. Sama saja. Toh juga bukan barang yang berat untuk ditenteng,” kataku.
“Masuk dulu Pak. Ini lagi main sama Ryan”
“Oom kok nggak pernah main ke sini sih. Om sombong deh,” kata Ryan menimpali pembicaraan ibunya. Ryan masih duduk di kelas dua SD.
“Ah nggak kok Ryan. Ini Om kan main juga ke sini. Bapak kemana?”.
“Bapak masih kerja di dalam hutan”.

Kami bertiga duduk di teras rumahnya dan ngobrol. Ternyata nama sebenarnya adalah Arlina, namun di lingkungan sekitar camp sampai ke kampung ia lebih tenar dengan nama udaranya, Lisa. Sesekali Ryan memotong pembicaraan kami. Setelah lima belas menit Lisa menyuruh Ryan masuk untuk belajar. Lisa kembali menggodaku dengan kata-kata yang menjurus dan desahannya yang khas.

“Sudah sebulan Pak Anto di sini. Sudah penuh dong.. Isi kantong celananya,”
“Ya, namanya juga jadi buruh. Kalau nggak begini nanti nggak makan,” jawabku tanpa menanggapi godaannya.

Entah bagaimana mulanya Lisa pun bercerita tentang keadaan rumah tangganya. Ia sering merasa kesepian karena Pak Joko lebih sering berada di lapangan dan di rumah istri mudanya. Bahkan belakangan ini ia mendengar kabar Pak Joko sudah punya simpanan lagi. Aku yang sudah lama tidak merasakan kenikmatan bercinta, tiba-tiba saja merasa bahwa Lisa memberikan satu peluang untukku.

Aku permisi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Ia mengantarku masuk ke dalam rumah dan terus ke bagian belakang. Setelah selesai buang air kulihat Lisa sedang sibuk di dapur. Kudekati ia dari belakang dan kupegang bahunya. Ia berbalik dan menatapku. Kukecup bibirnya. Ia diam saja. Kukecup sekali lagi. Kali ini ia membalas dengan lembut. Kupeluk, kepalanya kurebahkan ke dadaku dan kuusap-usap rambutnya.

“Sudah Pak Anto. Nanti Ryan melihat kita,” katanya pelan.

Kami kembali ke depan dan kini kulihat sorot matanya lebih bersinar. Memancarkan suatu gairah. Setengah jam kemudian aku berpamitan pulang.

“Kalau Pak Anto menginginkanku, kutunggu nanti malam”.
“Aku tak berani. Takut kalau nanti Pak Joko tiba-tiba datang”.
“Biasanya kalau sudah lewat jam satu malam Bapaknya tidak pulang. Nanti kalau lampu sudut rumah kumatikan artinya Bapaknya nggak ada”.

Akupun pulang dan mencoba tidur. Tapi sulit bagiku untuk memejamkan mata. Undangan dari Lisa sungguh mengusik pikiranku. Jam setengah dua aku terbangun dan kulihat ke belakang sudut rumahnya terlihat gelap. Sayup-sayup kudengar breaker di radio dari dalam rumahnya, rupanya Lisa belum tidur dan sengaja menungguku. Aku bimbang antara ya dan tidak untuk memenuhi ajakan Lisa. Setelah Kutimbang-timbang,,akhirnya aku pun tak kuasa menahan rasa gundah di dalam hatiku ini.

Sekitar jam 02:00 malam,,aku terpaksa pergi kerumah lisa yang tadinya dia sudah menunggu kedatanganku.Aku diam diam masuk lewat pitu belakang yang sudah di siapkan lisa.Saat aku sudah berada di dalam rumah Lisa,,pikiranku sudah tak karuan dan kacau balau,,takut kalau si Riyan bangun entah bagaimana jadinya.

Setelah itu,,kutenangkan diriku sejenak,,akhirnya aku mulai beranjak di pitu kamar Lisa..,akupun mengetok pintu kamarnya.

Lisa” Masuk pak,,gak aku kunci kok.

Pak Anton” Ya Bu

Lisa” Sekalian pitunya di kunci aja Pak.

Pak Anton” Ya bu

Setelah aku masuk di kamar tidur Lisa,,kulihat Lisa sudah memakai baju tidur tanpa Bra dan juga tanpa celana dalam.Terlihat jelas saat aku pandangi tubuh mulusnya Lisa dan susunya yang gak terlalu besar.Mungkin itu sudah disiapkan untuk menyambutku.

Aku pun langsung bergegas untuk mendekap tubuhnya dan memeluk erat tubuhnya yang seksi itu.Langsung ku lumat bibirnya yang super seksi dan tipis itu.Dia pun membalas aksiku yang agresip ini.Kami pun berpagutan sekitar 10 menit lamanya.Rasanya adik kecilku ini sudah gak kuat ingin keluar menyambut lubang sangkarnya Lisa yang sudah di hadapanku ini.

Pelan pelan aku melucuti semua pakaian Lisa,,dan ku rebahkan tubuhnya di springbet kamar tidurnya,,Waow,,terlihat jelas puting susunya yang menarik,,juga Vagina yang elegan,di tumbuhi bulu bulu tipis tapi agak kriting,yang kayaknya lama sudah gak di sentuh oleh pria.Langsung ku lahap puting susunya.,,Lisa terlihat mengerang penuh nikmat sekali.Sekali ku mainkan pentil susunya yang menarik itu,,Lisa semakin tambah asik dan menikmati permainanku.

Setelah itu aku langsung jilat vagina Lisa yang masih kaya perawan itu,,Baunya sungguh nikmat sekali,,terasa dia selalu merawat dan menjaga dengan baik vaginanya.Kira kira aku bermain di vagina Lisa sudah 20 menit lamanya,,Lisa pun berbisik di telingaku

Lisa” Pak..,,,Aachhh,,jangan permainkan aku,,jangan siksa aku,,Oh..oh..oh…,,aku sudah gak tahan Pak…..

Pak Anton” Hem…

Lisa ” Ayo pak,,aku sudah gak sabar dengan kontolmu yang gede itu pak,,ayo lekas masukin pak….

Setelah itu,,aku melihat Lisa sudah masturbasi beberapa kali,,lekas aku membuka semua pakainku.Ternyata si Adik kecilku ini sudah berdiri tegak lurus dari tadi.Di sambutnya dengan kedua tangan Lisa,,dan di masukinnya semua ke dalam mulutnya yang seksi itu.Rasanya sungguh nikmat sekali saat Lisa menggoyangkan kontolku ini di dalam mulutnya..,Ach…ach…Ayo bu terus lakukan semaumu bu…,,,iya sayang aku sudah lama gak merasakan kontol sebesar ini sayangku….

Setelah aku puas,,aku cabut kontolku dari bibirnya yang seksi itu.Lisa pun sudah siap memampangkan lubang vaginanya di depanku.Sedikit demi sedikit,,kumaksukkan kemaluanku ke dalam vagina Lisa yang seperti perawan itu.Akhirnya,,Blesss…,,bles…,,amblas semua batang penisku masik ke dalam lubang vaginanya.

Ach…ach.,,yes..yes,,,ayo pak,,goyangkan pak….

Sedikit demi sedikit aku lancarkan goyangan itu,,Lisa semakin mengerang ke enakan,,Asyik pak,,,Ach..achhh….ayo terus pak,,aku sudah mau keluar,,cepetin pak….

Semakin kupercepat goyanganku,,,selang beberapa menit,,kami berdua telah mencapai klikmas yang kedua bersama sama.Nikmat sekali rasanya,,ini yang amanya selingkuh itu indah.,,dan nikmat.

Kontolku yang masih menancap di vagina LIsa,,aku tarik dan kita berdua tidur terlantang,,sembari sambil menikmati persetubuhan itu.Dengan rasa letih,,lesu,,campur dengan angan angan terasa di tubuh kami berdua.

Pak Anton” Bagaimana bu.,,?

Lisa ” Sungguh nikmat sekali pak,,kapan kapan aku pengen lagi pak…

Pak Anton” Gampang bu.,,kita kan sudah sepakat bu,,apa bila ibu butuh aku seitap saat,,aku siap melayani…

Setelah itu,,aku tengok jam di kamar Lisa,,rupanya sudah jam 04:00 pagi.Tak terasa kita sudah bersetubuh 2 jam lamanya.Lansung saja aku pakai pakaianku,,dan aku pergi menuju kamar mandi yang ada di kamar Lisa untuk merapikan pakaianku.Setelah selesai,,akupun langsung balik ke kamar Lisa.Oh iya bu,,ini sudah pagi,,saya pulang dulu ya bu,,takut kalau Riyan bangun..,,

Sambil mengecup bibirku Lisa bilang,, ” Iya pak,,terima ksih atas semua yang pak anton la kukan ya.,,kapan kapan kita main lagi ya pak…

Pak Anton ” Iya bu,,aku juga sangat senang sekali bisa berbagi kenikmatan bersama ibu.Aku pun dengan cepat untuk keluar dari kamar Lisa.Soalnya takut kalau Riyan bangun.

Komentar Anda

Leave a Reply

Foto Bokep | Foto Bugil | Tante Girang | Cerita Dewasa © 2015 Frontier Theme